Analisis: Bagaimana Bagnaia Diam-diam Membangun Awal Musim Terkuatnya
Meski kesulitan keluar dari bayang-bayang Marc Marquez, ada satu alasan untuk optimis terhadap musim 2025 Francesco Bagnaia sejauh ini.

Setelah pertarungan sengit yang membuatnya kehilangan gelar juara tahun 2024 dari Jorge Martin, Francesco Bagnaia bersiap untuk apa yang mungkin menjadi pertarungan terbesar dalam kariernya di MotoGP.
Ducati membuat keputusan berani untuk memasangkan Bagnaia dengan Juara Dunia delapan kali Marc Marquez di Tim Pabrikan, menciptakan duo dengan total delapan gelar Grand Prix kelas utama di tim terbaik di MotoGP.
Fase awal musim ini tidak berjalan mulus bagi Bagnaia. Selama tes pra-musim, Pecco kesulitan menemukan kembali feeling yang membantunya meraih 11 kemenangan Grand Prix tahun lalu. Pengembangan motor '25 juga tidak banyak membantu, karena Ducati memilih untuk tetap menggunakan mesin GP24, di antara komponen lainnya.
Akibatnya, Bagnaia mendapati dirinya tertinggal dari Marquez, yang datang dan langsung mengambil alih garasi Ducati.
Hal ini terbukti sejak awal, saat Marc Marquez mendominasi Grand Prix Thailand, mengamankan Pole, serta dua kemenangan di Sprint Race dan Grand Prix. Di sisi lain, Bagnaia kesulitan menyamai kecepatan #93, bahkan ia tertinggal di belakang pembalap satelit Gresini Ducati Alex Marquez, yang membalap dengan GP24 spesifikasi tahun lalu.
Situasi semakin buruk bagi Bagnaia di Argentina, di mana ia finis ketiga di Sprint Race — lagi-lagi di belakang Marc dan Alex Marquez — dan keempat di Grand Prix. Pembalap Italia itu mendapati dirinya dalam situasi yang mengerikan setelah akhir pekan, separah itu sampai mempertimbangkan untuk kembali ke motor 2024. Namun, ia kemudian mengklarifikasi bahwa ia hanya mencari feeling dengan motor tersebut, bukan beralih sepenuhnya kembali ke spesifikasi GP24.
Bagnaia akhirnya menemukan terobosan di Austin pada Grand Prix Amerika. Meskipun dengan susah payah bertahan di posisi 10 besar— dan langsung menempati posisi Q2 —selama latihan hari Jumat, seperti yang biasa dilakukan Bagnaia, ia berhasil menemukan peningkatan sepanjang akhir pekan.
Setelah mengamankan posisi baris kedua di grid, Bagnaia berhasil mengawali balapan dengan baik, bertarung dengan Marc Marquez untuk pertama kalinya musim ini. Meski kembali finis di posisi ketiga di belakang Marquez bersaudara, Sprint Race menunjukkan bahwa #93 sudah tidak lagi jauh dari jangkauannya.
Pada Grand Prix hari Minggu, Bagnaia melangkah maju, menyalip Alex Marquez dan menjadi rival utama Marc dalam balapan tersebut. Akhirnya, Marquez melakukan kesalahan saat mengendalikan balapan, yang membuat Pecco menang.
Bagnaia sendiri mengakui bahwa kemenangannya adalah hasil dari kecelakaan Marc Marquez, dan ia tahu ia harus mengalahkan #93 secara langsung. Namun, ada satu tanda positif dari awal musim 2025 bagi Pecco.
Awal musim terbaik sejauh ini?
Setelah tiga putaran, Bagnaia duduk di posisi ketiga klasemen pembalap MotoGP dengan 75 poin. 12 poin di belakang Alex Marquez dan 11 poin di belakang Marc Marquez, dengan 19 putaran tersisa musim ini.
Bagnaia masih dianggap sebagai salah satu pesaing utama peraih gelar MotoGP 2025, meski kredibilitasnya dipertanyakan setelah dua putaran mengecewakan mengingat ekspektasi tinggi menjelang musim.
Akan tetapi, ada satu hal menarik yang menunjukkan Bagnaia sebenarnya sedang mengawali musim ini dengan sangat baik. Seperti yang terlihat pada tabel di bawah, pebalap Italia itu memiliki perolehan poin tertinggi setelah tiga putaran dibandingkan dengan dua musim sebelumnya.
Perolehan poin Francesco Bagnaia - Tiga Putaran Awal | |||||
Tahun | Balapan | Menang | Podium | DNF | Poin |
2023 | 6 | 3 | 3 | 1 | 53 |
2024 | 6 | 1 | 1 | 1 | 50 |
2025 | 6 | 1 | 5 | 0 | 75 |
Dibandingkan musim 2023 (53) dan 2024 (50), Bagnaia berhasil mengumpulkan sekitar 50% lebih banyak poin di tiga putaran pertama tahun 2025 (75). Faktor kunci di balik peningkatan ini adalah konsistensinya, karena ia sealu finis di posisi 4 teratas dalam semua enam balapan yang diadakan sejauh musim ini.
Ini tidak diragukan lagi merupakan peningkatan yang sangat besar bagi Bagnaia, yang upayanya untuk meraih gelar tahun lalu gagal karena DNF sebanyak 8 kali —5 di antaranya di Sprint Race hari Sabtu— meski memenangkan 11 Grand Prix.
Bagaimana peluangnya untuk sisa musim ini?
Mengatakan bahwa momentum dalam perebutan gelar telah beralih ke Bagnaia adalah pernyataan yang meremehkan, karena Marc Marquez masih menjadi orang yang harus dikalahkan musim ini. Tentu saja, ia akan kembali lebih kuat setelah kesalahannya di COTA, balapan yang seharusnya ia menangkan dengan mudah.

Namun setelah meraup poin solid di tiga putaran pertama di sirkuit tempat ia secara historis kesulitan, Bagnaia akan memberi tekanan lebih besar pada kubu Marc Marquez seiring berjalannya musim. Yang ia butuhkan hanyalah kembali ke perasaan yang ia miliki dengan motor '24, sesuatu yang tamapknya sudah didapatkan selama akhir pekan COTA.
Bagnaia juga belajar dari kegagalannya tahun lalu bahwa mengamankan poin yang solid setiap minggunya sangat penting dalam perebutan gelar — sesuatu yang telah ia coba tiru tahun ini dari tiga ronde pertama.
Marc Marquez masih menjadi favorit juara musim ini, tetapi jangan pernah mengesampingkan Bagnaia.